Wednesday, November 8, 2017

Biologi Berbagi

Oleh: Ika Rini Puspita


 Mahasiswa yang sering dijuluki sebagai kaum intelektual yang seyogyanya memberikan tempat tersendiri di dalam masyarakat. Hal tersebut dikarenakan mahasiswa memiliki kelebihan yang tentu saja tidak bisa disamakan dengan rakyat biasa, terutama dalam hal perjuangan bagi bangsa dan negaranya. Selain itu, mahasiswa juga memiliki pemikiran yang belum terpengaruh oleh urusan politik dan kepentingan-kepentingan lainnya. Mahasiswa yang tidak hanya sekedar menuntut ilmu, sibuk dengan tumpukan tugas yang diberikan dosen, sibuk berorganisasi, atau sibuk mengejar IP tinggi sampai lupa akan perannya sebagai mahasiswa, berkontribusi nyata  untuk masyarakat yang terpenting adalah mengaplikasikan teori yang dipahami bukan hanya dijadikan tumpukan pengetahuan.
Di tengah kesibukan mahasiswa sekarang yang bisa dikatakan super padat apalagi Jurusan Biologi dengan (laporan, respon, asistensi, hafal nama latin dan yang lainnya) ternyata masi saja peduli dan jeli melihat kondisi sekitarnya. Pada hari Sabtu, 14 Oktober 2017 mahasiswa Jurusan Biologi angkatan 2015 Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar acara berlangsung di Jln. AMD. Borong Jambu Kelurahan Tamangapa Kecamatan Manggala Kota Makassar atau di tempat pembuangan akhir sampah Antang (TPA).
Tujuan diadakan acara ini yaitu untuk memperingati milat angkatan 2015 yang kedua dengan nama angkatan “impuls”. Wiwin Silviawin selaku ketua angkatan memilih tempat di TPA Antang menurutnya tempat tersebut  layak menerimah perhatian lebih lanjut terkait usaha mereka untuk mencerdaskan anak-anak yang dimana orang tuanya dominan berprofesi sebagai pemulung.  Karena kami yang masi berstatus sebagai mahasiswa dengan menyumbangkan buku bekas, alat tulis, snack dan minuman tidak memberatkan. Tentunya dengan ini bisa meningkatkan wujud syukur dan kesadaran akan pentingnya ilmu, menghargai pasilitas yang ada karena kita tahu ternyata masi banyak anak-anak bangsa yang terhambat menuntut ilmu. Harapan yang lainnya semoga banyak masyarakat yang peduli dengan penderitaan mereka”. Tutur Wiwin selaku ketua angkatan.
  Sempat diskusi langsung dengan Ibu Naharia sebagai penanggung jawab rumah baca dengan jumlah pelajar diperkirakan sebanyak 200 orang dan yang aktif kadang 70 orang dari yang tidak berpendidikan sampai yang berpendidikan, tidak memilah-milah yang penting punya keinginan untuk belajar adapun waktu belajarnya habis sholat ashar sampai selesai. Niat mulia  ibu Naharia mendirikan rumah baca dengan mengambil contoh dari dirinya sendiri yang putus sekolah SMP kelas 2. “Cita-cita ingin jadi guru yang tidak kesampaian akhirnya ibu melihat di sekitar TPA masi ada anak-anak yang tidak menempuh pendidikan dan pekerjaan orang tua disekitar TPA sebagai pemulung, sehingga anaknya tidak terurus. Kalo bukan kita yang bergerak langsung siapa lagi yang membantu mereka” Niat mulia ibu Naharia dikehidupan sekarang sangat sulit kita temukan. Diakhir pembahasan kami pun bertanya siapa yang sering berkunjung ke tempat baca ini? jawaban menarik yang terdengar, ibu itu pun menjawab banyak dari kalangan mahasiswa, komunitas dan tempat ini kan kumuh otomatis diincar-incar oleh partai politik tidak lain untuk cari muka. Menanggapi pernyataan tersebut senyum miris menghampiri bisa-bisanya tempat seperti ini pun dijadikan ajang perpolitikan.
Penutup, harapan ibu Naharia selaku pengurus rumah baca tersebut ia berharap “sarana dan prasarana kan cuman dikontrak, harapannya sebaiknya pemerintah menyiapkan tanah tersendiri dan berharap taman baca ini tetap berlanjut terus”. Adapun harapan penulis seyogyannya pemerintah memperhatikan masalah ini dengan serius mungkin karena sudah menjadi kewajibannya dan berharap kedepannya kepada mahasiswa yang yang sekarang aksi nyata sangatlah diperlukan. Sebab, jika hanya berkutat pada teori apa bedanya kita dengan orang yang tak berpendidikan.  


(Dimuat dalam Edisi I Biosense Oktober 2017)

No comments:

Post a Comment