Mahasiswa yang sering dijuluki sebagai kaum intelektual yang
seyogyanya memberikan tempat tersendiri di dalam masyarakat. Hal tersebut
dikarenakan mahasiswa memiliki kelebihan yang tentu saja tidak bisa disamakan
dengan rakyat biasa, terutama dalam hal perjuangan bagi bangsa dan negaranya.
Selain itu, mahasiswa juga memiliki pemikiran yang belum terpengaruh oleh
urusan politik dan kepentingan-kepentingan lainnya. Mahasiswa yang tidak hanya
sekedar menuntut ilmu, sibuk dengan tumpukan tugas yang diberikan dosen, sibuk
berorganisasi, atau sibuk mengejar IP tinggi sampai lupa akan perannya sebagai
mahasiswa, berkontribusi nyata untuk
masyarakat yang terpenting adalah mengaplikasikan teori yang dipahami bukan
hanya dijadikan tumpukan pengetahuan.
Di tengah kesibukan mahasiswa sekarang yang bisa dikatakan super
padat apalagi Jurusan Biologi dengan (laporan, respon, asistensi, hafal nama
latin dan yang lainnya) ternyata masi saja peduli dan jeli melihat kondisi
sekitarnya. Pada hari Sabtu, 14 Oktober 2017 mahasiswa Jurusan Biologi angkatan
2015 Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar acara
berlangsung di Jln. AMD. Borong Jambu Kelurahan Tamangapa Kecamatan Manggala
Kota Makassar atau di tempat pembuangan akhir sampah Antang (TPA).
Tujuan diadakan acara ini yaitu untuk memperingati milat angkatan
2015 yang kedua dengan nama angkatan “impuls”. Wiwin Silviawin selaku ketua
angkatan memilih tempat di TPA Antang menurutnya tempat tersebut layak menerimah perhatian lebih lanjut terkait
usaha mereka untuk mencerdaskan anak-anak yang dimana orang tuanya dominan
berprofesi sebagai pemulung. “Karena
kami yang masi berstatus sebagai mahasiswa dengan menyumbangkan buku bekas,
alat tulis, snack dan minuman tidak memberatkan. Tentunya dengan ini bisa
meningkatkan wujud syukur dan kesadaran akan pentingnya ilmu, menghargai
pasilitas yang ada karena kita tahu ternyata masi banyak anak-anak bangsa yang
terhambat menuntut ilmu. Harapan yang lainnya semoga banyak masyarakat yang peduli
dengan penderitaan mereka”. Tutur Wiwin selaku ketua angkatan.
Sempat diskusi langsung dengan Ibu Naharia sebagai
penanggung jawab rumah baca dengan jumlah pelajar diperkirakan sebanyak 200
orang dan yang aktif kadang 70 orang dari yang tidak berpendidikan sampai yang
berpendidikan, tidak memilah-milah yang penting punya keinginan untuk belajar
adapun waktu belajarnya habis sholat ashar sampai selesai. Niat mulia ibu Naharia mendirikan rumah baca dengan
mengambil contoh dari dirinya sendiri yang putus sekolah SMP kelas 2. “Cita-cita
ingin jadi guru yang tidak kesampaian akhirnya ibu melihat di sekitar TPA masi
ada anak-anak yang tidak menempuh pendidikan dan pekerjaan orang tua disekitar
TPA sebagai pemulung, sehingga anaknya tidak terurus. Kalo bukan kita yang
bergerak langsung siapa lagi yang membantu mereka” Niat mulia ibu Naharia
dikehidupan sekarang sangat sulit kita temukan. Diakhir pembahasan kami pun
bertanya siapa yang sering berkunjung ke tempat baca ini? jawaban menarik yang terdengar,
ibu itu pun menjawab banyak dari kalangan mahasiswa, komunitas dan tempat ini
kan kumuh otomatis diincar-incar oleh partai politik tidak lain untuk cari muka.
Menanggapi pernyataan tersebut senyum miris menghampiri bisa-bisanya tempat
seperti ini pun dijadikan ajang perpolitikan.
Penutup, harapan ibu Naharia selaku pengurus rumah baca tersebut ia
berharap “sarana dan prasarana kan cuman dikontrak, harapannya sebaiknya
pemerintah menyiapkan tanah tersendiri dan berharap taman baca ini tetap
berlanjut terus”. Adapun harapan penulis seyogyannya pemerintah
memperhatikan masalah ini dengan serius mungkin karena sudah menjadi
kewajibannya dan berharap kedepannya kepada mahasiswa yang yang sekarang aksi
nyata sangatlah diperlukan. Sebab, jika hanya berkutat pada teori apa bedanya
kita dengan orang yang tak berpendidikan.
(Dimuat dalam Edisi I Biosense Oktober 2017)
(Dimuat dalam Edisi I Biosense Oktober 2017)

No comments:
Post a Comment